Puisi: Menyimpan Ingatan
- Menyimpan Ingatan,
dalam Ruang Arya.
dalam Ruang Arya.
Kenapa rembulan enggan bersinar
di matamu, Sayang, sepasang bohlam
padam. Angin embus, cafe remang-
remang, siluet pengunjung baru datang,
dan langkah kaki yang kuamati, mendekat.
Lamat-lamat.
di matamu, Sayang, sepasang bohlam
padam. Angin embus, cafe remang-
remang, siluet pengunjung baru datang,
dan langkah kaki yang kuamati, mendekat.
Lamat-lamat.
Jelaskan padaku, katamu,
warna apa paling indah ketika mata tak lagi
membeda bias? Jawab!
warna apa paling indah ketika mata tak lagi
membeda bias? Jawab!
Aku, yang kau tahu lebih sering mendengar
siaran salam-salam dari radio ketimbang skandal murahan milik
pendidik dan publik figur negeri ini, tak bisa apa-apa.
siaran salam-salam dari radio ketimbang skandal murahan milik
pendidik dan publik figur negeri ini, tak bisa apa-apa.
Jawab! Pintamu lagi.
Setelahnya tak ada yang tetap: detik beranjak,
dan semua yang tak pernah tetap di dalamnya.
Kecuali ingatan. Aku ingin menjawab.[]
dan semua yang tak pernah tetap di dalamnya.
Kecuali ingatan. Aku ingin menjawab.[]
(Ruang Arya, 29 Mei 2019)

Posting Komentar untuk "Puisi: Menyimpan Ingatan"